Tunggu Sebentar ...

Random 24012018

Ditulis oleh

Ada banyak hal yang dapat dijadikan renungan buat pribadi. Merenung itu amat penting. Kata merenung ini sering banget dulu diucapkan oleh Ayah saya, sejak kecil. Tepatnya sih mengajak saya buat merenung. Biasanya ketika saya dianggap bandel atau nakal atau melawan orang tua. Terutama ketika misalnya Ibu saya mulai marah. Selalu diucapkan oleh Ayah saya "coba abang renungin, mama itu udah ngandung abang 9 bulan, yang boleh dibilang rasa sakitnya itu banget banget, ditambah lagi setelah itu harus sering bergadang karena namanya bayi sering nangis, apalagi ga lihat waktu, mau pagi siang sore, malam bahkan tengah malam".

"Lalu kalau anaknya nakal pasti sedih, terluka, dll". Begitu kira-kira kurang lebih nasehat Ayah saya dulu semasa sekolah. Yang intinya, saya disuruh merenung tentang pengorbanan Ibu saya. Ternyata, karena sering diucapkan Ayah saya, sudah usia dewasa ini pun mengakui kalau merenung itu penting. Poin yang saya dapatkan adalah mungkin dulu saya anggap sepele kata-kata "merenung" ketika hampir setiap Ibu saya marah, Ayah selalu mengucapkan itu. Jadi di otak saya tercatat "merenung".

Dan dari merenung itulah kita belajar mengevaluasi diri. Apa yang harus diubah, apa yang harus ditingkatkan lagi. Dalam buku agama yang saya baca juga menganjurkan memang lebih banyak merenung. Tentang kesalahan-kesalahan kita, tentang sikap kita ke orang lain, dll.

Maka, saya suka dengar cerita-cerita orang kalau lagi dijalan. Misalnya di angkutan online. Hampir setiap saya naik angkutan online, drivernya banyak cerita tentang kehidupan. Ini pilihan sih, memang banyak yang engga semua orang pengen dengar nasehat orang lain. Meskipun saya sering dapat nasehat-nasehat bagus dari driver akutan online, tapi kadang ada juga yang menurut saya dia terlalu lebih ingin tahu kehidupan pribadi. Kalau sudah begini, tentu saya pasang badan.

Pernah juga, dulu sewaktu saya masih awal-awal bekerja. Saya sempat mampir di warung perempatan dekat rumah saya. Ternyata, pemiliknya adalah tukang becak yang sering saya tumpangin sewaktu SMP. Bapak itu masih ingat ternyata sama saya. Dia banyak cerita, tentang hidupnya dan juga anak-anaknya. Betapa dia memperjuangkan banget kehidupan yang layak untuk anak-anaknya. Terutama dengan memberi modal pendidikan yang layak.

"Jangan kayak bapaknya mas" kata bapak yang dulu sempat jadi tukang becak. Saya cuma mendengarkan baik-baik. "Saya ingin anak-anak saya kuliah dan kerja yang lebih bagus dari saya ini, ya kayak mas ini". Saya pun diam. Ternyata bapak tersebut menilai saya mendapatkan pekerjaan yang layak, tapi sebenarnya saya justru yang kagum dengan bapak tersebut. Lalu, beliau juga lanjut bercerita kalau anaknya sekarang sudah bekerja. Dengan nada yang terlihat bangga tapi tetap rendah hati. Bangga melihat anaknya bahagia, dan mendapatkan pekerjaan yang dianggap beliau layak, tidak seperti dirinya. Begitu katanya.

Kalau kamu, suka dengar cerita kehidupan atau nasehat-nasehat dari orang lain ? Bukan untuk kepo, tapi untuk mencari hikmah didalam cerita atau nasehat tersebut.

 

Ditumpuk didalam berkas : Berkicau
Yang berkomentar (0)
Setiap komentar yang tampil adalah hasil dari persetujuan Admin

Komentar untuk "Random 24012018"


Mau dapat tambahan dollar dengan kemampuan desainmu ? ayo salurkan bakat desainmu dengan mengupload desain yang kamu buat dan bisa menghasilkan pendapatanmu jika desain kamu laku terjual di produk teepublic. Klik disini untuk register. Semoga sukses ya