Tunggu Sebentar ...

Random 01052018

Ditulis oleh

Beberapa tahun ini, banyak di medsos bertebaran membagikan berita, tips dan trik, jadwal kajian, ceramah (baik live ataupun siaran ulang dari akun medsos dakwah). Yang menarik adalah jaman sekarang dakwah sangat kreatif. Dikemas dengan desain yang semenarik mungkin. Yang isinya adalah sebagai pengingat diri masing-masing yang membaca pesan dakwah tersebut.

Di akun medsos saya, bertebaranlah hasil share dari teman-teman tentang poster dakwah, tentunya isinya ada yang bagus, ada yang juga malah muncul kontroversi. Tapi, kali ini saya ga bahas yang kontroversi. Karena mengingat saya juga ga ada ilmu-nya. Kali ini saya cuma menuangkan apa yang saya pikirkan dari banyak kejadian.

Ya, kali ini soal perkara hutang piutang. Tentunya kalau sudah perkara hutang, sudah tentu banyak yang minat untuk menyimaknya. Tapi sayangnya, yang saya lihat adalah ketika beberapa diantaranya yang membagikan poster dakwah mengenai hutang, isi dari share-nya diberi sisipan komentar seakan-akan ngasih kode ke orang yang pernah hutang terhadap-nya tapi belum dibayar. Kalau yang saya tangkap, kemungkinan, orang yang berhutang terhadapnya marah saat ditagih, atau malah pura-pura lupa. Kalau soal perkara pura-pura lupa, ini perlu direnungkan kembali.

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana, yang isinya itu tentang jika ada akun dakwah yang mengeshare tentang perenungan, baiknya itu si follower menjadikan share poster tersebut sebagai renungan pribadi, bukan sebagai sindiran-sindiran. Mungkin kalau saya tangkap, misalnya tentang hutang ini.  Ada baiknya, setiap orang yang ingin mengeshare kembali perihal hukum hutang di dalam agama, direnungkan kembali bagi yang mengeshare. Misalnya, saya. Jika saya lihat ada poster dakwah yang isinya tentang hutang, maka baiknya saya harus merenung terlebih dahulu untuk diri saya. Mengoreksi apakah saya punya hutang terhadap teman, saudara, kerabat, dll. Karena perkara hutang, kita sering lupa. Ini penyakit manusia yang bisa mengenai siapa saja.

Dan jika pun ada, maka segeralah menyelesaikannya jika mampu, jika pun masih belum mampu, setidaknya berilah kabar dan meminta maaf atas semua kekhilafan dan berjanji untuk melunasi secepat mungkin jika nanti ada rezeki.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana jika ada orang yang ternyata masih punya hutang dengan saya ? saya justru tertarik mencari ilmu atau padangan agama bagaimana cara menagih hutang yang baik, tentunya supaya tidak menyakiti yang ditagih juga. Bagaimana pun, patut juga kita menjaga lisan, karena, meski kita punya hak untuk menagih, takutnya lisan tidak terkontrol malah menyakiti hati orang yang punya hutang.

Menariknya lagi, saya juga jadi mikir. Bagaimana ternyata kalau yang diberi hutang tidak mampu membayar ? baik secara baik-baik dia mengatakannya ataupun secara kasar dia mengucapkannya (ini misalnya ternyata dia lebih galak). Tentunya saya juga lagi mencari bagaimana cara menyikapinya.

Satu hal yang terpikir saya adalah merenung juga tentang diri ini, apakah saya mudah memberi janji ke orang. Tapi belum bisa saya tepati, malah saya lupa dengan janji saya. Karena konon katanya janji adalah hutang. Maka perlu juga saya merenungkan diri janji-janji yang belum bisa ditepati, yang bisa jadi dengan janji itu justru ada hati orang yang tersakiti karena belum bisa saya tepati tapi saya malah seakan-akan tidak pernah berjanji. Karena mungkin janji tidak terlihat materi nya, maka sering kita melupakan janji-janji yang pernah diucapkan.

Ditumpuk didalam berkas : Berkicau
Yang berkomentar (2)
Setiap komentar yang tampil adalah hasil dari persetujuan Admin

Komentar untuk "Random 01052018"

inayah
06-06-2018 07:09

wah lama banget ngga baca blog ini

Komentar via web

Balas
Danni Moring
06-06-2018 11:00

piye kabare ?

Komentar via web

Balas
https://www.designbyhumans.com/shop/dmcloth/crewnecks/