Tunggu Sebentar ...

Antara Ambisi, Cinta, Pengkhianatan

Ditulis oleh

Alkisah ada seorang pendekar yang sangat disegani karena ilmu beladiri nya. Hampir seluruh pendekar disambanginya hanya untuk bertarung, apalagi kalau bukan untuk menaklukkannya. Bukan hanya sekedar bertarung mengadu / menguji ilmu tetapi juga sang pendekar ini tak segan-segan membunuh lawannya, lalu diambil lah anak-anak mereka untuk dirawat. Ya, karena memang keinginannya adalah menguasai dunia persilatan di jamannya itu.

Setelah beberapa tahun lama nya, pendekar itu pun memiliki beberapa murid. Tentu murid sebagiannya dari anak - anak para pendekar yang telah dibunuhnya. Terdapatlah 3 orang murid spesialnya. Sebut saja si Angin, Si Api, Si Langit sebagai murid-murid spesialnya. Dididik dengan berbagai ilmu yang lebih spesial jika dibandingkan murid-murid lainnya.

Lalu ternyata keinginan akan menguasai dunia pun masih melekat pada diri sang pendekar itu. Dia pun memiliki ide untuk menanyakan perihal nasib nya dimasa datang ke dewa. Konon Dewa ini bisa menyamar berbagai rupa, jadi rupanya tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Misalnya ketika melihat nenek, ternyata dia itu sang dewa. Atau ketika melihat seorang kakek- kakek biasa, ternyata dialah sang dewa tersebut.

Diperintahkanlah ke-3 muridnya  untuk mencari dewa tersebut. Diam-diam si pendekar tersebut membuntuti para muridnya itu. Ketika akhirnya sang murid mendapatkan sang dewa, lalu dipertengahan jalan dihadanglah oleh seseorang dan lalu dirampas lah sang dewa tersebut. Yang ternyata seseorang tersebut tak lain dan tak bukan adalah sang pendekar, alias guru dari ke-3 murid itu sendiri.

Setelah sang pendekar merampas karena keinginannya supaya tidak diketahui muridnya mengenai ramalan masa depannya, lalu dia pun bertanya pada sang dewa. Sang dewa pun mengatakan bahwa suatu saat kelak dia akan terjatuh oleh 3 unsur, dan 3 unsur tersebut adalah terdekat dengan dirinya, yaitu para muridnya sendiri.

Karena ketakutannya akan jatuh oleh sang murid, akhirnya dia pun merencanakan sesuatu. Setelah kembalinya para murid tersebut dari pencarian sang dewa dan melaporkan telah gagal dan dirampas oleh seseorang. Lalu pura-pura lah si pendekar itu bersikap bijak bahwa biarlah sang dewa tersebut dirampas karena sudah tak penting. Padahal karena dia sendiri yang merampas nya.

Lalu, sang pendekar tersebut mengatakan kepada si Angin untuk menikahkan anaknya dengan dirinya. Sang Angin pun tersenyum karena dirinya pun sebenarnya telah menaruh hati pada anak sang guru. Lalu si Api ternyata diam-diam marah karena cemburu, merasa sang guru tak adil.

Disaat pernikahan Angin dan putri Sang Guru, lalu tiba-tiba si Api merusaknya dengan mengajak bertanding. Akhirnya terjadilah perkelahian antara Angin dan Api. Sebenarnya sang Angin ini adalah orang yang sabar, tidak menyukai perselihan sesama saudaranya. Namun, perkataan sang Guru telah membuatnya terpengaruh untuk berkelahi dengan si Api.

Ketika saling mengeluarkan ilmu, sang putri pun tak tega melihat kedua murid ayahnya berkelahi karena dirinya. Ternyata itu adalah siasat sang Guru untuk membunuh para muridnya. Ketika kedua muridnya berkelahi, diam-diam sang Guru mengeluarkan tenaga dalamnya yang diarahkan ke dua muridnya yang sedang berkelahi. Putrinya pun melihat aksi ayahnya, lalu putrinya menghadangi ayahnya sehingga terkenalah tenaga dalam ayahnya sendiri.

Akhirnya murid yang berkelahi pun berhenti ketika melihat wanita pujaan mereka terjatuh terkena tenaga dalam. Saat masa-masa kritis, sang wanita meminta maaf sekaligus berkata ke Angin bahwa dirinya sebenarnya tidak mencintai si Angin, alasannya ingin menikah karena dia ingin membuat cemburu si Api supaya bertindak untuk mendapatkan dirinya.

Lalu karena si Angin ini orang yang sabar, maka dimaafkanlah wanita pujaannya itu. Lalu meninggal lah sang putri ditangan pangkuan mereka. Melihat kematian wanita pujaannya tersebut, mereka menanyakan kenapa sang Guru mengeluarkan tenaga dalam.

Sang Guru pun tak bisa mengela dan mengatakan bahwa ketiga muridnya itu harus mati. Sebenarnya mengapa yang diadu hanya Angin dan Api ? karena bagi Sang Guru, si Langit mudah disingkirkan ketimbang Angin dan Api. Ditambah lagi Sang Guru mengetahui sisi lemah masing-masing dari sifat murid-muridnya.

Mengetahui niat buruk sang Guru, sang Langit pun tidak tinggal diam. Akhirnya mereka pun bersatu untuk melawan sang Guru. Dan akhirnya Sang Guru terkalahkan oleh ketiga muridnya itu, Angin - Api - Langit.

Cerita ini sewaktu saya nonton film silat China yang dikemas dengan efek moderen. Tapi lupa judulnya apa

Ditumpuk didalam berkas : Berkicau
Yang berkomentar (0)
Setiap komentar yang tampil adalah hasil dari persetujuan Admin

Komentar untuk "Antara Ambisi, Cinta, Pengkhianatan"